Tuesday, March 06, 2007

Lelaki yang Dikalahkan Takdir


1

sungguh aku hanya ingin mengambil hakku, Dalem

ketika panen tiba dan kekasihku meninggalkan janjinya


ah, Apun, nama yang kukenali seperti keintiman

liku tubuhmu, barisan gigimu, serta setiap

helai rambut dan helaan nafasmu. Seperti lekuk

jalan setapak antara sawah dan hutan

yang menghubungkan kampungku dengan kampungmu

aku menemukan bau tubuhmu pada setiap helai daun padi

pohon-pohon karet, aliran sungai, dan setiap pasang mata


namun, kali ini, dari balik rerimbun pohon aku mencium

aroma tak wangi lagi. Daun-daun yang masih basah oleh emosi, tegak

dengan angkuh. Dan, kenyataan itu terasa sangat pahit

ketika harus kutelan sendiri takdirku. Benarkah aku harus

menelannya begitu saja? “Apun sudah berangkat

subuh tadi menuju ke dayeuh,” kata angin lirih


o, betapa pahit. Seorang laki-laki kehilangan

perempuannya yang dilarikan Sang Takdir. Betapa pahit

nasib yang harus kutelan sendiri ini. Dan, betapa sia-sia

menganyam mimpi tentang panen kita. Tentang

janji menjadi pengantin. Begitu janjiku. Juga janjimu,


tapi sekarang tidak ada panen itu. Orang-orang yang

kehilangan mimpi. Seorang laki-laki yang kehilangan perempuannya

seperti duka kanak-kanak yang kehilangan mainannya.


dan, aku berangkat untuk mengambil janjiku

merayapi jalan setapak dalam bisu sambil mengendapkan

rindu. Tanpa obor penerang jalan, sebab obor amarah di dadaku

lebih benderang menerangi jalan. Hanya sebilah condre yang kuselipkan

di balik punggung. Sebuah benda mati yang tidak melebihi

kekuatan cinta menuju perempuanku


2

ah, Apun, betapa cinta mampu membuat seorang laki-laki menempuh

jalan amarah ini. Melangkah tanpa keriangan saat ini. Yang ada hanya kabut

dan rasa nyeri. Dan, kesunyianlah yang menyergap ketika kakiku melangkah

melewati gerbang Kadaleman. Menyaksikan bunga-bunga dan sepasang

kekasih sedang saling rungrum. Dan, perempuan itu adalah kekasihku

namun, benarkah ia masih milikku kini?


kupandangi wajah laki-laki yang bercahaya itu. “Siapakah yang telah

mengusik pagiku?” suara agung itu tiba-tiba sudah berada di hadapanku.

aku menunggu suara lain yang ingin kudengar. Namun, suara yang

kunantikan itu tidak kunjung datang. Sementara tanganku kian erat

menggenggam condre di belakang punggungku. Ah, aku seperti seorang

pesakitan yang tepergok hendak meloloskan diri. Atau seorang anak

kecil yang hendak berbuat nakal, tapi ketahuan


Dari jauh kau datang, katakan sekarang atau tidak sama sekali,” suara

agung itu menggema kembali. Kali ini seperti sebuah sabda


Bunuhlah aku, Dalem,” suaraku tercekat di tenggorokan


sayup-sayup aku mendengar suara petikan kecapi diiringi gelik

suara suling. Aku juga mendengar suara tembang. Ah, suara kaukah itu?


3

duh, Apun, senjata di tanganku terasa bergetar dan begitu berat

seakan-akan ada ribuan kati beban yang menggayuti tanganku. Sementara

mata yang bercahaya itu masih menancap pada tubuhku. Ahhh. Kian

mengental kurindukan suara lain itu mengeluarkan kata-kata


barangkali satu kata pun cukup. Barangkali satu tusukan senjata ini

pada tubuh Dalem akan sanggup memancing suara yang kurindukan itu

barangkali satu jeritan. Sementara yang kudengar saat ini tetap alunan

denting kecapi ditingkahi jeritan suling. Sesekali suara

tembang Asmarandana yang sayup.


lalu, aku bangkit, berdiri. Berhadap-hadapan laki-laki dengan laki-laki

Aku harus mengambilnya, Dalem,” ucapku lirih

Kau berani melawanku? Melawan Dalem sebagai takdirmu?”

Tapi aku bukan hendak melawan Junjunganku, melainkan hanya

mengambil hakku.”

Seberapa berani kau menghadapinya?”

Sampai mati. Dalem. Sampai mati”

Sampai mati? Alangkah sia-sia hidupmu jika hanya bisa mati

sebab dirimu hanyalah seorang anak muda yang sedang dendam

oleh kasmaran. Sementara hanya takdir yang bisa

mengelakkanku terhadap kehidupan!”


pulanglah untuk menjemput takdirmu, ucapnya lirih

lalu semua terasa hening. Suara kecapi suling itu telah lama

lenyap. Hanya ada suara desiran angin dan helaan nafas

atas nama takdir pula, pergilah. Suatu saat kelak, jika ini memang

hakmu, ia tak akan ke mana-mana, gumam kemenangannya


o, betapa pahit takdir itu, ketika senjata condre di tanganku

bergetar. Ahhh. Senjata ini pun adalah takdir juga


1999-2004

No comments: