1
sungguh aku hanya ingin mengambil hakku, Dalem
ketika panen tiba dan kekasihku meninggalkan janjinya
ah, Apun, nama yang kukenali seperti keintiman
liku tubuhmu, barisan gigimu, serta setiap
helai rambut dan helaan nafasmu. Seperti lekuk
jalan setapak antara sawah dan hutan
yang menghubungkan kampungku dengan kampungmu
aku menemukan bau tubuhmu pada setiap helai daun padi
pohon-pohon karet, aliran sungai, dan setiap pasang mata
namun, kali ini, dari balik rerimbun pohon aku mencium
aroma tak wangi lagi. Daun-daun yang masih basah oleh emosi, tegak
dengan angkuh. Dan, kenyataan itu terasa sangat pahit
ketika harus kutelan sendiri takdirku. Benarkah aku harus
menelannya begitu saja? “Apun sudah berangkat
subuh tadi menuju ke dayeuh,” kata angin lirih
o, betapa pahit. Seorang laki-laki kehilangan
perempuannya yang dilarikan Sang Takdir. Betapa pahit
nasib yang harus kutelan sendiri ini. Dan, betapa sia-sia
menganyam mimpi tentang panen kita. Tentang
janji menjadi pengantin. Begitu janjiku. Juga janjimu,
tapi sekarang tidak ada panen itu. Orang-orang yang
kehilangan mimpi. Seorang laki-laki yang kehilangan perempuannya
seperti duka kanak-kanak yang kehilangan mainannya.
dan, aku berangkat untuk mengambil janjiku
merayapi jalan setapak dalam bisu sambil mengendapkan
rindu. Tanpa obor penerang jalan, sebab obor amarah di dadaku
lebih benderang menerangi jalan. Hanya sebilah condre yang kuselipkan
di balik punggung. Sebuah benda mati yang tidak melebihi
kekuatan cinta menuju perempuanku
2
ah, Apun, betapa cinta mampu membuat seorang laki-laki menempuh
jalan amarah ini. Melangkah tanpa keriangan saat ini. Yang ada hanya kabut
dan rasa nyeri. Dan, kesunyianlah yang menyergap ketika kakiku melangkah
melewati gerbang Kadaleman. Menyaksikan bunga-bunga dan sepasang
kekasih sedang saling rungrum. Dan, perempuan itu adalah kekasihku
namun, benarkah ia masih milikku kini?
kupandangi wajah laki-laki yang bercahaya itu. “Siapakah yang telah
mengusik pagiku?” suara agung itu tiba-tiba sudah berada di hadapanku.
aku menunggu suara lain yang ingin kudengar. Namun, suara yang
kunantikan itu tidak kunjung datang. Sementara tanganku kian erat
menggenggam condre di belakang punggungku. Ah, aku seperti seorang
pesakitan yang tepergok hendak meloloskan diri. Atau seorang anak
kecil yang hendak berbuat nakal, tapi ketahuan
“Dari jauh kau datang, katakan sekarang atau tidak sama sekali,” suara
agung itu menggema kembali. Kali ini seperti sebuah sabda
“Bunuhlah aku, Dalem,” suaraku tercekat di tenggorokan
sayup-sayup aku mendengar suara petikan kecapi diiringi gelik
suara suling. Aku juga mendengar suara tembang. Ah, suara kaukah itu?
3
duh, Apun, senjata di tanganku terasa bergetar dan begitu berat
seakan-akan ada ribuan kati beban yang menggayuti tanganku. Sementara
mata yang bercahaya itu masih menancap pada tubuhku. Ahhh. Kian
mengental kurindukan suara lain itu mengeluarkan kata-kata
barangkali satu kata pun cukup. Barangkali satu tusukan senjata ini
pada tubuh Dalem akan sanggup memancing suara yang kurindukan itu
barangkali satu jeritan. Sementara yang kudengar saat ini tetap alunan
denting kecapi ditingkahi jeritan suling. Sesekali suara
tembang Asmarandana yang sayup.
lalu, aku bangkit, berdiri. Berhadap-hadapan laki-laki dengan laki-laki
“Aku harus mengambilnya, Dalem,” ucapku lirih
“Kau berani melawanku? Melawan Dalem sebagai takdirmu?”
“Tapi aku bukan hendak melawan Junjunganku, melainkan hanya
mengambil hakku.”
“Seberapa berani kau menghadapinya?”
“Sampai mati. Dalem. Sampai mati”
“Sampai mati? Alangkah sia-sia hidupmu jika hanya bisa mati
sebab dirimu hanyalah seorang anak muda yang sedang dendam
oleh kasmaran. Sementara hanya takdir yang bisa
mengelakkanku terhadap kehidupan!”
pulanglah untuk menjemput takdirmu, ucapnya lirih
lalu semua terasa hening. Suara kecapi suling itu telah lama
lenyap. Hanya ada suara desiran angin dan helaan nafas
atas nama takdir pula, pergilah. Suatu saat kelak, jika ini memang
hakmu, ia tak akan ke mana-mana, gumam kemenangannya
o, betapa pahit takdir itu, ketika senjata condre di tanganku
bergetar. Ahhh. Senjata ini pun adalah takdir juga
1999-2004
