Tuesday, November 14, 2006

Tiba-tiba Istriku Ingin Menjadi Pohon

tiba-tiba angin mengajak berjongkok di samping kebun. tatap, katanya
tunas yang ditanam dengan tangan kasarmu itu sudah belajar menjadi pohon
menancapkan akar. menumbuhkan batang untuk tempat tumbuhnya ranting
tapi, kapan kelopak bunga mekar? tanya istriku. dengan sabar angin
menunjukkan riwayat sang hidup yang menjalani babak demi babak. kapan
waktunya menguatkan akar, kapan saatnya menumbuhkan batang, dan kapan
membuat ranting menjadi penuh daun tempat menyembulnya bakal bunga

angin membelai tangan kasarku yang sedang menyiramkan air pada pohon
yang sedang belajar tumbuh. lihat, jeritnya, tanpa tangan kasarmu yang
memberikan kehidupan, pohon itu tak akan pernah bisa menyerupai pohon
lalu, kapan buah menjadi ranum? rengek istriku. dengan telaten angin
meminta lebah berzinah dengan putik, tanpa melamar dan menyerahkan
mahar, dikawininya bunga hingga hamil. bunga yang kelak hamil tua pada
akhirnya akan menghasilkan buah yang kecil dan lucu-lucu sebagai kado

mungkinkah angin mengajarkan sesuatu untuk pohon itu? setidaknya, gumamnya
pohon pun belajar untuk melakukan kesabaran. Melalui babak demi
babak tanpa tergesa. Dan, lihat, tunas kecil itu tumbuh menjadi pohon dengan
akar yang kuat dan batang yang elok, berdaun rimbun dan berbunga kemilaudan buah? wahai, tiba-tiba istriku ingin menjadi pohon!

1 comment:

Cho said...

Pagi menerang.
Silow, man!