Thursday, July 20, 2006

Maut Berkasta


gempa tlah tiba
gempa tlah tiba
hore, horee, horeee!

Andai saja syair lagu yang dinyanyikan si imut cilik Tasya seperti itu...

Jasad seorang wartawan Sinar Pagi yang terseret tsunami telah ditemukan. Berita itu menjadi satu angle yang ditayangkan sebuah stasiun tv swasta. Ah, ternyata bencana itu telah menyeret korban dari kalangan profesi yang menginformasikan bencana itu sendiri. Namun, pada ujung berita tersebut diceritakan musabab "sang wartawan" itu hingga direnggut maut. Beliau, bersama tiga temannya, sedang bermain di pantai saat tsunami menerjang.

Alamaaaaakk... kalau sedang bermain mah apa bedanya dengan ratusan korban lainnya. Kok, harus dibedakan antara warga biasa dengan wartawan? Kirain sedang melakukan tugas jurnalistik sehingga disematkan predikat lain: meninggal karena tsunami sebagai wartawan!
Kok, korban yang lain tidak ada yang disebutkan secara detail sesuai profesinya, bahwa yang meninggal itu Nelayan yang sedang bermain, Dokter yang sedang bermain, Tukang kayu yang sedang bermain, Sopir yang sedang bermain, dan lain-lain.

Betapa maut pun sudah mulai mengenal kasta yang harus dibedakan!

Thursday, July 13, 2006

Lagu Orang Rumah

seribu tahun buatmu, adik, yang masih bermimpi
bertemu kekasih. Sesuatu yang disebut memori itu
ada atau tak ada. Tapi rasa romantis telah lebur
menjadi puisi dan lagu-lagu sederhana. Mengambang

seribu tahun lagi, adik, aku punya mimpi. Dan
tawaran yang terus mengalir buat jadi pengelana
atau pembawa acara. Salah siapa jika yang terukur
hanya kedalaman rasa dengan saling setia saja setiap
ada di rumah. Sebab sejengkal dari sana kau dan
aku kembali menjadi kanak-kanak. Abadi

padahal keabadian itu hanya menunggu, meringkuk di sudut
kamar, minta dielus dan dicumbu, disayang-sayang. Jadi
tak perlu ada lagu baru atau pembawa acara, memori
apalagi kelana kesiangan. Sesuatu itu
nisbi dan tak eksis

seribu tahun lagi, adik, jika beruntung. Kau dan aku masih
bisa bersama-sama


Sunday, July 09, 2006

Lost Mind



Ingin kuterjemahkan matamu,
tapi tidak hatimu ... !

Friday, July 07, 2006

Ilalang



pintu itu masih tertutup, di balik jendela
tiba-tiba udara mulai mengambang. Mata
siapa yang memandang berkaca-kaca?

tiba-tiba saja rambut kita menjadi
putih semua, dan orang-orang menidurkan
hatinya di atas tanah

Saturday, July 01, 2006

Wanci Ratri



Adalah malam yang wingit dan sakral. Adalah malam ketika Begawan Wisrawa memaparkan Sastra Jendra Hayuningrat kepada Dewi Sukesi. Adalah malam ketika diri berhadapan dengan jatining diri. Adalah malam ketika jiwa dan raga terbuka untuk melihat dan mendengar rahasia semesta yang paling dalam.

Dan, kau bukan rahasia lagi ...