
gempa tlah tiba
gempa tlah tiba
hore, horee, horeee!
Andai saja syair lagu yang dinyanyikan si imut cilik Tasya seperti itu...
Jasad seorang wartawan Sinar Pagi yang terseret tsunami telah ditemukan. Berita itu menjadi satu angle yang ditayangkan sebuah stasiun tv swasta. Ah, ternyata bencana itu telah menyeret korban dari kalangan profesi yang menginformasikan bencana itu sendiri. Namun, pada ujung berita tersebut diceritakan musabab "sang wartawan" itu hingga direnggut maut. Beliau, bersama tiga temannya, sedang bermain di pantai saat tsunami menerjang.
Alamaaaaakk... kalau sedang bermain mah apa bedanya dengan ratusan korban lainnya. Kok, harus dibedakan antara warga biasa dengan wartawan? Kirain sedang melakukan tugas jurnalistik sehingga disematkan predikat lain: meninggal karena tsunami sebagai wartawan!
Kok, korban yang lain tidak ada yang disebutkan secara detail sesuai profesinya, bahwa yang meninggal itu Nelayan yang sedang bermain, Dokter yang sedang bermain, Tukang kayu yang sedang bermain, Sopir yang sedang bermain, dan lain-lain.
Betapa maut pun sudah mulai mengenal kasta yang harus dibedakan!



