
Benarkah ada kampung besar bernama Jakarta?
Tiba-tiba yang membentang dalam khayal adalah belantara lebat dimana langit tak pernah ada. Dasar orang udik, katamu, Princess. Ya, aku masih tetap laki-laki 'dusun' yang gagap dengan gerak bersicepat itu. Bukankah, ketika pertama harus menikmati MTV pun, kepala ini masih terbata-bata untuk mencecapnya?
Dan, mulai hitungan hari ke depan, aku harus masuk ke belantara itu. Tenang aja, Jek, semua juga manusia. Hah, memang manusia! Tapi, bukankah manusia juga yang telah menciptakan keseraman sekaligus kemuraman di mana-mana? Aku harus ke Jakarta, euy!
Meskipun sering menginjakkan kaki ke Jakarta, tak lebih sekedar numpang lewat. Jika harus lama, daya tahanku hanya sampai 2x24 jam. Lebih dari itu, kepala yang terus berdentam-dentam ini memaksaku untuk melarikan diri.
Lalu, titah itu akhirnya datang juga: Mulai 1 Juli, kau harus ke Jakarta! Alamaaaakk, kenapa tidak sekalian aja ke Baghdad? Biar pulang kelak, aku bisa berbangga dengan julukan Si Raja Baghdad.

1 comment:
Cangcut batik, ati-ati ka jackmania. They are not supporter, but criminal...
Post a Comment