Wednesday, June 28, 2006

Terima Kasih, Rimet!


 FIFA World Cup sudah memasuki episode ke-18, sejak pertama kali digelar tahun 1930 silam. Maka, berterima kasihlah kepada Jules Rimet, entah bagaimana caranya. Berkat ide pria Prancis itulah ajang olahraga terbesar di dunia ini lahir.

Tanpa ide cemerlang pria kelahiran Theuley-les-Lavoncourt (24 Oktober 1873) itu, kita tak akan pernah menikmati Piala Dunia ke-18 kalinya di Jerman ini. Rimet adalah orang yang pertama kali mencetuskan dilangsungkannya turnamen sepak bola antarnegara di seluruh dunia.


Selepas sekolah menengah, Rimet memutuskan memilih Paris untuk melanjutkan studinya di ilmu hukum. Namun, di ibu kota Prancis itu pulalah kecintaan Rimet pada sepak bola berkembang. Pada Maret 1897, ia dan beberapa rekannya mendirikan klub sepak bola Red Star, yang masih eksis hingga saat ini.

Dedikasi dan pengaruh Rimet pada sepak bola Prancis semakin kuat saat ia berhasil mempersatukan federasi-federasi sepak bola Prancis ke dalam satu wadah: Federation Francaise de Football (FFF) atau Federasi Sepak Bola Prancis pada 1910.

Pada awalnya tak ada yang kenal siapa Rimet hingga kongres FIFA --Badan Sepak Bola Dunia yang berdiri pada 1904-- di Christiania pada 1914 ia mewakili FFF. Di sinilah Rimet melontarkan ide. "Melihat pelaksanaan (sepak bola) di olimpiade yang sesuai dengan peraturan FIFA, sebaiknya FIFA melaksanakan turnamen sendiri. Jika sepak bola terikat dengan olimpiade, itu hanya akan seperti turnamen dunia amatir," kata Rimet.

Langkah Rimet semakin terbuka saat ia ditunjuk menjadi presiden FIFA ketiga pada 1 Maret 1921. Pada kongres FIFA di Amsterdam, 28 Mei 1928, Rimet bersama rekan senegaranya yang juga Sekretaris Jenderal FFF, Henry Delauney, mulai melaksanakan kampanye untuk melaksanakan turnamen yang mempertemukan negara-negara sepak bola seluruh dunia.

Ide yang mendapat sambutan luar biasa dari anggota FIFA dan memutuskan penyelenggaraan pertama dilangsungkan pada 1930. Hungaria, Italia, Belanda, Spanyol, dan Swedia mengajukan diri sebagai tuan rumah.

Namun, Uruguay lebih difavoritkan sebagai tuan rumah pertama karena beberapa alasan. Uruguay merupakan peraih dua medali emas olimpiade (1924 dan 1928) serta akan merayakan 100 tahun kemerdekaannya.

Pada kongres FIFA di Luksemburg 1946, sebagai bentuk penghargaan, nama Rimet diabadikan menjadi trofi Piala Dunia pertama yang diciptakan Abel Lefluer.

Selama 33 tahun di bawah kepemimpinan Rimet, FIFA tumbuh menjadi organisasi besar. Saat Piala Dunia 1954 di Lausanne Swiss --Piala Dunia terakhir yang dibuka Rimet-- FIFA telah beranggotakan 85 negara.

Tanggal 21 Juni pada tahun yang sama, dalam kongres di Bern, Rimet mengundurkan diri dan menjadi Presiden Kehormatan FIFA yang pertama. Setahun kemudian ia menerima penghargaan Nobel La Paz atas jasa-jasanya mengembangkan sepak bola dan perdamaian. Rimet meninggal dunia pada 16 Oktober 1956 di Paris.

Kini, 76 tahun setelah Piala Dunia pertama di Uruguay, 70 negara sudah ikut serta. Beberapa sudah berganti nama, beberapa bahkan sudah tidak ada. FIFA kini beranggotakan 205 negara, lebih banyak dibanding anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa!

Rimet memang sudah tiada. Namun, berkat jasanya, Piala Dunia --yang tahun ini diselenggarakan di Jerman untuk yang ke-18 kalinya-- menjadi bagian dari kehidupan sepak bola, juga dunia.

(sumber: Tempo Interaktif, Senin, 15 Mei 2006)

Portiere



Suatu ketika komunitas kami harus berangkat ke luar daerah untuk melakukan investigasi. Kami berjumlah 7 orang: Kayak The Seven Magnificient, deh! Tiba-tiba seorang urung ikut: "Aku jaga gawang aja!"

Tentu saja secara harafiah jaga gawang di sini tugasnya tidak seperti Buffon atau Dida, meskipun tugasnya sama-sama agar tidak kebobolan.

Namun, jaga gawang di komunitas kami akhirnya menjadi bermakna negatif. Setiap ada kegiatan ke luar daerah, alih-alih kompakan, selalu saja orang yang itu-itu juga selalu bilang, "Aku jaga gawang aja," katanya. Alhasil, jadilah dia bernama Ari Lasso alias Si Penjaga Gawang! (salah satu lagu Ari Lasso berjudul: Penjaga Hati).

Menjadi penjaga gawang tidak selalu berarti masif. Sebab, dialah satu-satunya yang memiliki otorisasi lebih dalam sebuah permainan sepakbola. Ada ruang seluas 16 meter yang menjadi wilayah teritorialnya sebagai penguasa.


Monday, June 26, 2006

Hijrah


Benarkah ada kampung besar bernama Jakarta?

Tiba-tiba yang membentang dalam khayal adalah belantara lebat dimana langit tak pernah ada. Dasar orang udik, katamu, Princess. Ya, aku masih tetap laki-laki 'dusun' yang gagap dengan gerak bersicepat itu. Bukankah, ketika pertama harus menikmati MTV pun, kepala ini masih terbata-bata untuk mencecapnya?

Dan, mulai hitungan hari ke depan, aku harus masuk ke belantara itu. Tenang aja, Jek, semua juga manusia. Hah, memang manusia! Tapi, bukankah manusia juga yang telah menciptakan keseraman sekaligus kemuraman di mana-mana? Aku harus ke Jakarta, euy!

Meskipun sering menginjakkan kaki ke Jakarta, tak lebih sekedar numpang lewat. Jika harus lama, daya tahanku hanya sampai 2x24 jam. Lebih dari itu, kepala yang terus berdentam-dentam ini memaksaku untuk melarikan diri.

Lalu, titah itu akhirnya datang juga: Mulai 1 Juli, kau harus ke Jakarta! Alamaaaakk, kenapa tidak sekalian aja ke Baghdad? Biar pulang kelak, aku bisa berbangga dengan julukan Si Raja Baghdad.

Status Quo


Berpihaklah kepada yang mapan, maka Anda layak menunggang angin.

Ini masih tentang perhelatan FIFA World Cup 2006 di Jerman. Suatu ketika, tiba-tiba berharap di final bertemu Iran versus Angola, atau Trininad & Tobago bertemu Togo. Namun, apa lacur, sepakbola dunia memang status quo. Tak ada kejutan berlebihan. Jika Jerman, Inggris, Argentina, dan Potugal melenggang ke babak berikutnya, maka berkibarlah status kemapanan itu.

Memang ada mutiara bersinar dari benua hitam seperti Ghana. Taji Michael Essien, Steppen Appiah, Asamoah Gyan, setajam kuku singa. Atau Swiss yang mampu mencakar Menara Eiffel dan Ukraina, negara Eropa Timur yang mengandalkan legenda tunggal Ashevchencko. (Ah, ingat pelajaran sejarah yang menyebutkan negara inilah yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia, wuiiiihh!). Sayangnya, sejarah pun seakan-akan tak menghendaki adanya kejutan. Malah, sejak tahun 1994, finalis World Cup hanya ada Brasil dengan 3 lawannya: Italy, Francis, dan Jerman.

Jadi ingat pertengahan tahun 80-an saat di tanah air tercinta heboh kejuaraan sepakbola yang bernama Kompetisi Perserikatan. Saat itu, Persib Bandung dan PSMS Medan adalah ikon dari kemapanan alias status quo. Belakangan, muncul Persebaya Surabaya, PSM Makassar, Persija Jakarta (Pusat), dan PSIS Semarang. Bahkan, jika Persib melangkah ke Senayan (tempat final diselenggarakan), dijamin seluruh stadion disulap menjadi warna biru, warna kesayangan tim asal Bandung ini. Hingga tahun 1989, Perseman Manokwari yang melenggang ke final, seakan-akan dipaksa memilih lawan Persib. Kenapa? Sebab, jika tidak, aroma kemapanan itu akan sirna.

Sekarang, akankah kita berharap final World Cup akan terjadi antara Ghana vs Swiss? Sejarah pasti tak akan merelakannya! Atau, sejarah belum siap dengan perubahan yang akan merusak status quo.

Sunday, June 25, 2006

Winning


Begitulah. Panggung itu telah ditentukan oleh Sang Waktu. Deutchland, Deutchland, airmata siapa yang lebih dulu mengalir?

Begitulah, Sang Pemenang yang akhirnya akan melenggang. Di antara 17 kali perhelatan, Sang Waktu hanya membilang 7 jawara dari seluruh benua. Adilkah? Sang Waktu tak pernah memahkotai dengan keadilan, tetapi dengan Takdir. Destiny. Maka, takdir pula yang telah merujuk 3 nama dari benua latin serta 4 nama dari benua putih yang mewakilinya. Sejak tahun 1930-2002 (minus 1942 dan 1946 karena ada kejuaraan lebih akbar, yakni: Perang Dunia, Man!) hanya ada
Brazil (juara 5 kali tahun 1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002), Jerman (Barat) (3 kali tahun 1954, 1974, dan 1990), Italy (3 kali tahun 1934, 1950, dan 1982), Uruguay (2 kali tahun 1930 dan 1938), Argentina (2 kali tahun 1978 dan 1986), Inggris (1 kali tahun 1966), dan Francis (1 kali tahun 1998).

Begitulah. Lalu, kemanakah Sang Waktu menjatuhkan Takdir-nya tahun 2006 ini? Semoga yang terbaik dimahkotai sebagai Putera Sang Waktu.

Hail Enggris!!!!