Sunday, July 15, 2007

Taman Kejahatan

tiba-tiba saja rambut kita menjadi putih semua
musim kawin telah lewat, burung
meminjamkan sarang pada angin, dan
orang-orang menidurkan hatinya di atas tanah ..


1
DAN, seperti yang kusaksikan, ia benar-benar menidurkan mata dan hatinya. Merebahkan tubuhnya di atas hamparan dedaunan. Beralaskan rambutnya yang tipis dan mulai memutih, ia menyembunyikan kecantikannya yang penuh dengan duka.

Sejenak ia meratapi kedukaannya. Luka-luka hati yang tak pernah tersembuhkan, saat satu demi satu yang dicintainya secara perlahan meninggalkannya.
Ia merasa kesepian.

Kemudian, secara perlahan pula, tubuhnya mulai mengelupas.

Kering. Sepertinya selalu ingin kuusap bibir yang belah itu dengan selembar kain lap basah. Sesungging gerak yang tak rata dicobanya. Itulah senyum yang bisa diserahkannya. Namun, sebaris kesakitan berjejer dari garis matanya yang tak pernah diam.

Matahari coklat. Kulit kepala yang ingin mengelupas dengan lembar rambut yang berkibar tipis. Kembali sederet kesakitan seakan-akan mendera saat tubuhnya yang kaku itu mencoba bergerak. Seinci demi seinci, seolah jam yang dibutuhkannya menderak perlahan.

Ia mencoba bergeser mendekatkan tubuhnya padaku. Ada kepedihan yang menjalar tatkala badan yang rapuh itu merapat. Kedip matanya yang halus memintaku memeluknya. Namun, dengan canggung kuulurkan tangan ke arah kepalanya. Untuk kudekap. Lalu ia menyuruk di dadaku.

Ah, inginnya ia menangis. Kenyataannya hanya suara erangan yang keluar dari mulut kering itu. Sedang airmata entah ke mana. Mata itu telah mengering.

Aku paham, gumamku lemah. Aku sangat paham dengan kondisi serupa itu. Sebab, berkali-kali aku menemukan raganya tak berdaya seperti itu.

Kemarin, pemilik bibir belah yang kering dengan rambut tipis itu masih riang menari-nari di depanku.

Aku ingin bermain, katanya penuh semangat.

Kuiyakan saja. Tak pernah kukatakan tidak padanya, meskipun aku belum menjadwal waktu untuknya. Sebab, ia tidak akan siap dengan kata penolakan. Harus selalu iya. Sebab, satu-satunya alasan kenapa kulakukan seperti itu, adalah perasaan berdosa.

Aku ingin bermain, katanya.

Ia selalu bermain-main denganku karena tidak memiliki teman selain aku. Tentu saja ada seseorang yang sering diajaknya bermain. Dan, itu pula yang mencegahku untuk mengatakan tidak padanya.

Meskipun, dalam kalkulasi peluang yang teramat jarang, aku dengan sangat terpaksa, kadang-kadang tidak ada untuknya ketika ia ingin bermain. Dan, kerapuhan yang terjebak di raga wadagnya itu yang selalu menyongsongku setiap bertemu kembali.

Dan, kemarin itu, ketika kukatakan padanya bahwa aku tidak bisa bermain dengannya, kenyataannya aku memang benar-benar tak bisa. Aku tidak bisa. Sebab, pada saat itu, aku diharuskan tak ada untuknya.

Lalu, seperti biasa jika aku tak ada, ia menghampiri seseorang itu untuk diajaknya bermain. Seseorang yang datang dari dunia imajinatif. Seseorang yang akan membawanya berkelana menjelajahi ruang-ruang yang sangat sublim tapi rapuh. Seseorang yang kukenal sebagai bayang-bayang.

Aku selalu merasa berdosa jika menemukan dia seperti itu.

Pasti, setelah itu, aku akan menemukan sosoknya telah begitu kering. Seakan-akan semua spirit yang ada dalam dirinya dalam sekejap tersedot. Sukma yang mengembara itu lepas dari raga dengan kerontang, meskipun tak sepenuhnya meninggalkannya, karena masih terikat oleh janji dan waktu.

Sangat lama hingga aku bisa mengembalikan sosoknya pada semula. Dengan segala keriangannya.

Mula-mula, ketika aku bertemu dengannya, di suatu siang yang sunyi. Namun, kesunyian yang hanya dimiliki kami berdua. Kami menyebutnya siang yang penuh keajaiban.

Namaku Princess, katanya.

Riang. Seperti puteri.

Senyum dengan mata yang tertutup samar. Dan, aku selalu menyukainya setiap kali ia tersenyum. Ia jarang tertawa. Sebab, kataku, jika ia tertawa, maka ia akan tertidur dengan mata yang terpejam lama.

Kami sedang bermain ketika tiba-tiba tubuhnya yang mestinya jatuh terkena terjanganku itu malah mengambang ke udara seolah ditopang oleh tangan-tangan tak kasat mata.

"Hei! Kau curang!" Aku berteriak.

Dengan jemari kurusnya ia menangkap kehampaan di bawahnya lalu menyeringai senang oleh penemuannya yang mungkin membahagiakannya itu. "Tangkap aku! Hei! Kau yang di bawah! Tangkap aku!"

Kujejak tanah dengan mengkal dan kupertunjukkan padanya jemariku yang terkepal. Ohhh. Ini sama sekali tak lucu!

Dia tertawa dan mulai bernyanyi meledekku: "Kau semakin pendek! Semakin pendek! Tralala! Ow!"

"Brengsek!" Kurahup segenggam tanah dan melemparnya.

"Kau semakin pendek! Semakin pendek, ahoi!"

"Kembali kau, bangsat!" Aku kembali berteriak.

"Tangkap akuuuuuuu!"

Bayangan tubuhnya di tanah semakin mengerdil saja. Aku menengadah dan tersilaukan oleh mega yang merah. Dia tak lagi meraba-raba udara di bawahnya. Dia menjulurkan tangannya ke langit dan semakin tinggi terangkat dariku.

"Ibumu nanti marah! Hei! Turun!"

Dia melambai dan balas berseru. Tapi kata-katanya lepas tak terdengar telingaku.

"Kembalilah! Aku takkan menerjangmu lagi!" Aku berseru panik tatkala sebuah kenyataan yang pahit seakan-akan terbentang luas di hadapan dan mencemaskanku. Tapi kian lama tubuhnya kian menitik jua. "Aku berjanjiiii!"

Lalu titik itu hilang.

Lapangan rumput dan hutan kecil Argasoka itu terlalu kecil dan sunyi untukku bermain sendiri. "Kembalilah."

Doaku tulus sambil menatap langit yang berhasil menangkapnya sementara aku tidak.

Apakah dia benar-benar memintaku untuk menangkapnya tadi? Ataukah dia masih meledekku pendek dalam seringainya? Apakah lalu dia meronta-ronta minta turun? Apakah dia kemudian terdampar di suatu tempat?

Aku pun mulai bertanya-tanya. Apakah kebersamaannya dengan seseorang itu telah membuatnya mengambang di udara? Disucikan dari tanah yang mulai kotor dan beracun itu? Inilah ketakutanku selama ini. Ia selalu bermain dengan seseorang yang kukenal sebagai bayang-bayang. Seseorang yang begitu disayang dan dipeluk bumi sehingga bumi pun tak berani untuk mengotorinya. Sehingga ia tak pernah menapak dalam jejak. Ia melayang-layang di atasnya.

Sebab itulah kunamakan bayang-bayang. Wujud yang tak berbentuk, tapi menyerupai setiap kawan yang diajaknya bermain. Ibarat cermin. Atau mimesis. Dan, kawan saat ini adalah perempuan kecil yang mengaku bernama Princess itu.

"Aku harus punya kawan selain dirimu," katanya suatu ketika. "Sebab aku tak ingin selalu bergantung padamu. Dan, aku sekarang sudah memilikinya."

Aku hanya menyangka bahwa kawan yang dimaksudnya adalah sebutan untuk dunia imajinatif yang diciptakannya. Tak, seorang. Tapi sekumpulan kawan untuk menemaninya. Sebab, ia selalu mengaku tak tahan oleh kesepian.

Ternyata seseorang itu memang ada, meskipun hanya berupa bayang-bayang. Seseorang itu nyata meskipun datang dari dunia imajinatif.

Suatu ketika aku pernah meminjam seseorang itu.

"Tapi jangan lama-lama. Cepat kembalikan karena aku tak punya siapa-siapa lagi," pintanya, sungguh-sungguh.

Aku pun lantas berkelana menuju dunia bayang-bayang.

Seperti mimpi yang melenakan. Aku mendatangi seseorang itu pada sebuah siang yang gerah. Matahari mengerahkan sinarnya dengan sepenuh hati. Memanggang setiap benda dengan sorot matanya. Seakan-akan ingin menghanguskan segala benda yang ada di bumi ini.

Seketika tubuhku terasa gosong.


2
AKU bisa melihatnya di mana-mana. Dia bisa diam seperti daun dalam genangan air, sesekali bergoyang tenang dan perlahan. Dia bisa resah seperti kutu mabuk, hilir-mudik menyeruduki kepalamu, menggayutgatali rambut. Dia bisa meletus seperti Tahun Baru namun juga bisa semenakutkan kuburan yang menganga, sesabar batu dan segalak halilintar.

Dia menjamur dalam kelopak mataku.

Jangan tertawa. Mungkin bagimu aku tolol karena kau tentu pernah jatuh cinta pula. Dan cintamu tak sesederhana ini.

Untuk apa mencintai perempuan yang bukan lagi rahasia?

Perempuan seharusnya seperti jigsaw puzzle, katamu. Penuh teka-teki sekaligus kejutan. Lelaki butuh gambar utuh. Namun, yang paling penting adalah menemukannya sebelum utuh. Lalu menyusunnya sambil secara pelan-pelan mencintainya.

Jadilah kamu puzzle, Princess. Dan biarkan aku menemukan secara utuh dari bagian-bagian dirimu sebelum utuh.

Bagimu mungkin tak ada asyiknya punya gambar utuh. Untuk apa?

"Aku tak suka mencintai, meskipun aku cinta padamu. Maksudku, kenapa harus mencintai? Itu hal paling konyol yang pernah dilakukan manusia. Seperti menimba air, kalau kau ngerti. Aku akan capek. Dan air akan habis. Suatu hari, aku akan mendingin dan menua dan mencintai akan mengeringkanku lebih cepat, seperti timba itu. Aku tak suka dikecipaki ember, apalagi yang butut. Aku ogah energiku habis untuk hal yang sudah kuketahui ending-nya. Jadi begitulah. Maaf. Ah. Ngapain minta maaf? Kau harus ngerti. Aku tak suka mencintai. Itu saja."

"Kamu ... lucu."

"Oh ya?" Dia menggaruk lehernya. "Yah. Mending lucu daripada nggak, kan?"

"Kau menolakku."

"Hei, hei, hei! Jangan salah sangka. Aku menolak diriku sendiri. Kau baca bibirku, aku cinta padamu. Banget. Seperti nyamuk aku cinta padamu, menenggelamkan sungutku pada kulitmu hingga kau tepuk aku mati pun, akan kupatahkan sungutku agar a part of me tetap tertancap padamu. Segila itulah."

"Itu bukan gila, sayang. Itu putus asa."

"Oalah, jangan main kata-kata. Apa beda gila dan putus asa? Meski tentu saja, orang gila cenderung lebih bahagia. Mereka bisa menyembunyikan keputusasaan mereka dengan makan taik."

Hohoho! Itu sarkastik!"

"Hmmmm."

"Kau takut, kan?"

"Hell yea. Tepatnya, aku pengecut."

"Kau pendusta pula."

"Dusta?"

"Kau mendustai dirimu sendiri. Semua orang ingin memiliki apa yang mereka cintai. Kau bukan santa dan lain sebagainya. Jika benar mencintaiku, maka otomatis kau ingin memilikiku. Tapi kau mendustai dirimu sendiri. Kau menolak gairah untuk itu."

"Ah," dia meludah. "Semua perempuan adalah pendusta. Lagipula, aku hanya mendustai diriku sendiri, dan aku tak marah karenanya, karena aku tahu sisi jujurnya. Aku tak harus menerka-nerka mengapa aku mendustai diriku sendiri atau macam dusta apa yang kusembunyikan. Tapi aku cinta padamu dan itu jujur. Ah, mengapa kau begitu sulit diyakinkan? Lihat? Belum apa-apa aku sudah hampir mati bosan meyakinkan cintaku padamu. Kau seperti timba itu, bermain-main di permukaanku."

"Karena aku tak mengerti, Princess."

"Jangan menghinaku seakan-akan aku misterius. Kau bodoh, itu saja."

Tapi malam itu, aku menggapai-gapai ketika hanya kutemukan jejaknya di kamar ini. Ransel biru. Sepatu putih. Tiga apel hijau yang mulai renta. Tiga? Kenapa bukan dua?

Tapi dia entah di mana.

Aku mulai merasakan kepudaran dirinya.

"Don't leave me alone," keluhnya.

Dia bilang tak mau ditinggalkan. Dan, aku sekali pernah meninggalkannya. Dia pun mengaku tidak bisa sendirian. "Sebab aku takut kesepian," katanya.

Esoknya, dia datang dengan tiga batang bunga rawa. Lagi-lagi tiga? Bukan dua?

Tak ada yang salah ketika kuletakkan seuntai rosario mengelilingi tiga apel yang menua itu. Satu untukku. Satu untuknya. Dan, satu lagi, entah untuk siapa.

"Untuk pengganti buah khuldi yang dicuri Adam dari sorga," katanya.

"Lalu bunga rawa itu untuk siapa?" tanyaku.

"Bukan untuk siapa, tapi untuk apa. Untuk pengganti waktu yang telah hilang. Sebab itu, kini biarkan aku menjauh darimu untuk waktu yang tak tergantikan itu."

Seketika itu aku terjatuh dalam tidur yang mahaluas.

Seperti ketika dia melepaskan perasaannya laksana halilintar yang menyambar-nyambar. Membuat orang-orang di sekelilingnya membelalak dan ketakutan. Lalu, aku yang berada di dekatnya tak menemukan apa-apa selain seringai tanpa dosa.

"Gue sudah mulai mencintaimu, tauk!"

Begitu tanpa dosa, kata-kata itu.

Seperti halilintar, bagi yang lain.

"Ahhh. Emang cuma segitu, kok."

"Sekarang kita bisa jadian, kan?"

Matanya menyalak seperti lampu halogen di kepekatan dinihari tanpa bintang dan fajar. Tapi begitu redup saat tatapannya luruh pada sepatu dan rerumputan.

"Gue cuma pengen asal lu tau aja!"

Dia pun berlalu sambil tetap merunduk, meninggalkan bayangan punggungnya yang melengkung. Tak ada kekecewaan yang dibawanya menjauh. Langkahnya yang cepat menarikan gerakan tap. Kian lama semakin cepat. Seperti kijang melompat-lompat.

Hanya rona-rona yang begitu kekanakan saat dia menoleh dengan sipu.

Dia memang kanak-kanak itu.


3
"TERNYATA idup itu nggak gampang, tak cuma untuk dipikirin. Pokoknya gue cinta. Titik. Tanpa koma!"

Emoticon itu bergerak-gerak. Princess.

"Wakakaka ... idup emang bukan buat dipikirin, tapi dilakonin. Gue juga cinta. Tanpa tanda baca!"

Typing message. Dia tampak sedang menuliskan sesuatu. Tapi, lama tak ada apa-apa di layar monitor itu. Dan, aku pun lama memelototinya.

"Lu salah sent ya?" tanyaku.

Dia masih terdiam.

Aku mulai bosan menunggu. Lalu kembali klik sana, klik sini, mencari-cari sesuatu tanpa peduli.

"Gue gak salah sambung kok. Titik." Akhirnya kata-kata itu muncul juga.

"Tapi sejak kapan lu serius gitu?" kataku.

"Gue emang serius ... kali ini, xixixi."

"Ketawanya gak usah ditulis. Garing tauk!"

"Biarin. EGP!"

"Tapi emang garing."

"Garing kek, basah kuyup kek, emang situ oke."

Huh!

"Eh, ketemuan yuk!" tulisnya kemudian.

"Kapan?"

"Kapan ya?"

"Kok malah nanya lagi."

"Besok gimana?"

"Boleh. Itu pun kalo gue belum mati."

"Yeah! Kalo situ mati besok, gue bikinin acara deh buat in memoriam."

"Jangan lupa pake testimonial yang bagus buat gue ya!"

"Wakakaka ... !"

"Eh, gue bilang ketawanya jangan ditulis. Jayus amat sih lu!"

"Kok marah seh?"

"Siapa yang marah? Gue bilang garing, bukan marah."

"Auk ah!"

Princess sign out. Tapi aku tahu dia belum offline, hanya invisible.

"Sori. Kok malah situ yang ngambek seh?"

Tidak ada jawaban.

"Ya wis. Pokoknya gue (masih) cinta," tulisku.

"Gue juga."

Akhirnya.

Aku tersenyum.


4
TAPI saat ini aku bergeming. Jadi, di sinilah, di taman ini, ia selalu menyerahkan sukmanya kepada seseorang bernama bayang-bayang itu. Taman yang penuh dengan rerumputan serta sebuah hutan kecil. Lalu, menanggalkan tubuhnya melorot menjadi sekeping daun kering yang luruh di atas tanah.

"Gue tak pernah merasa selepas ini," kataku.

Bayang-bayang itu berubah menjadi kilau.

Lalu dimulailah permainan yang penuh rahasia itu. Seperti aji Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu yang bermain-main di dalam kepala kami. Bayang-bayang itu, dalam diamnya, begitu fasih mengurai makna sajatining cinta seperti Wisrawa yang dengan pongah membuka tabir kehidupan yang seharusnya tidak boleh terjadi.

Dan, kami melayang-layang. Hey, aku mengambang di udara. Aku bisa terbang! Aku bisa terbang!

"Gue tak pernah merasa selepas ini!" teriakku.

Bayang-bayang itu tersenyum. Lalu tertawa. Memperlihatkan taringnya yang panjang dan tajam.

Di taman itu, kami bermain-main dengan kata-kata. Bayang-bayang itu terus menguraikan makna hidup secara sistematis dan aritmatis. Membawaku menapaki beragam molekul yang menempel dalam tubuh kasar kami. Sementara aku terus tertawa-tawa sambil bertahan untuk tidak terbawa ke dalam kata-katanya yang ibarat sihir membiusi setiap benda yang ada di taman itu, termasuk aku.

Benda-benda di taman itu seakan-akan tunduk pada kata-katanya. Semua berbaur seperti pasangan-pasangan yang intim tanpa membedakan bentuk. Rerumputan dengan pohon cemara saling bertautan pucuk-pucuknya. Lalu ilalang saling membelitkan tubuh bersama pohon apel. Buah berry dengan beringin.

Aku tertawa-tawa menghindar dari belitan lidah bayang-bayang itu yang menjalar-jalar seperti tumbuhan sulur. Mencoba membelit sukmaku yang melayang-layang.

Dalam sadarku yang mulai meremang. Aku melihat kilasan tubuh Princess yang terbelit oleh bayang-bayang itu. Tersedot ke dalam kekuatan kata-kata laksana Sukesih yang terpukau kata-kata Wisrawa di taman Argasoka ini. Dan, di sanalah mereka merentangkan tangan. Di taman yang dilalui pada suatu musim, ketika pohon-pohon muda mulai bernyanyi.

Begitu banyak udara untuk dihirup, melayang-layang disangga pepohonan yang hidup, berputar di antara ranting-ranting, jatuh ke tanah lalu membal menjadi angin.

Sedikit debu.

Aku merasa sedang berdoa, keluhmu seraya berputar perlahan. Rambutmu tersapu matahari menjadi kuning.

Tapi tanganmu tak terjalin, jawabku. Kau lebih nampak seperti seorang penari. Berputar-putar mencari jejak kakimu sendiri.

Apalah bedanya. Penari pun berdoa, keluhmu riang.

Sama seperti diriku, mereka mulai melayang-layang, setelah menyadari bahkan alunan musik paling merdu pun terdengar bagai lenguh keledai penarik beban yang sekarat di telinga. Dari balik pepohonan yang terasa bagai telah mereka tinggali selamanya, aku bisa melihat labirin berpucuk bunga dengan hamparan kerikil terakota.

Tapi, mereka terlihat seperti bosan dan tak lagi menginginkannya. Bahkan untuk mencecap kue-kue berbentuk dadu yang jika kau mengigitnya, sebuah sungai selai mabuk yang membuat syarafmu tergetar, sanggup merampas segala ketidakbahagiaan.

Aku pun tak menginginkannya. Seluruh indera telah dihanguskan kelaparan mahadahsyat, terhauskan ketidakpastian hingga menggelepar-gelepar seakan-akan merasai demam berkepanjangan.

Akan pergikah kita kali ini? keluhmu seraya menggapaikan tangan, menekan dinding-dinding udara sekan mengukur kekuatannya.

Bahkan rasa-rasanya aku bisa meresap ke balik udara ini, tersekap dan hidup bahagia di dalamnya.

Lihatlah titik hitam kecil di taman ini, ucapku sambil mendekatkan mukamu pada tubuh-tubuh mereka yang terlihat bahagia.

Benarkah mereka bahagia?

Mereka tidak gelisah!

Mereka diam tak bergerak!

Dengan tangan yang lemah aku kembali menuju perjalanan. Masih tetap menunjukkan doa. Di taman yang dilalui pada suatu musim, ketika pohon-pohon muda mulai bernyanyi.

Aku tersadar dengan tubuh yang lemah, terkapar di taman dengan rerimbunan pohon. Tapi aku tidak kehilangan sukmaku.

"Gue tak pernah merasa selepas ini!" keluhku.


5
TIBA-TIBA taman itu menjadi buram. Dia tersimpuh pada tunggul-tunggul yang gosong. Taman itu telah berubah menjadi puing. Dan, setiap puing adalah sebuah kuburan yang menyisakan kenangan.

Dalam keheningan simpuhnya, kuamati pepohonan di sekitarnya yang tanpa daun. Lalu, seperti medan laga yang baru ditinggal kekalahan, segala yang tersisa ibarat raga yang ditinggalkan sukma. Sukma-sukma yang meninggalkan raga di taman itu melayang-layang membentuk segerombolan awan sambil tak henti menitikkan tangis. Maka, seperti palagan Bharatayuda yang basah oleh hujan, yang menyisa hanyalah onggokan kekalahan dari seratus raga para Kurawa yang mati sia-sia.

Kusaksikan pula, dia yang menyebut dirinya Princess itu, menengadahkan wajahnya ke langit. Laksana Dewi Gandhari yang meratapi kekalahan anak-anaknya di medan Kurusetra, saat untuk kali kedua tutup matanya terbuka.
"Sia-sia semua kesetiaanku, o para dewa," isaknya.

Ia seperti yang sedang menghujat. Tatapan matanya seperti sebuah tamparan atas rasa sakit yang tak terkirakan. Ia menatapku penuh dengan dendam yang mulai memudar. Dendam terhadap rasa cinta yang pahit.

Aku tahu mata itu penuh dengan tuduhan.

"Aku telah memenuhi janji untuk tetap setia," keluhnya.

"Setia saja tidak akan pernah cukup, Princess," kataku lemah.

"Memang tidak akan pernah cukup untuk sebuah pengabdian."

"Sebab, satu kali kau tidak pernah setia. Sesaat, ketika kau masih membukakan mata untuk segala-galanya. Sesaat, sebelum kau memutuskan untuk menutup segala penglihatan demi sebuah kesetiaan itu."

Ia tercenung. Bulu-bulu matanya luruh menaungi cahaya matanya yang garang.

"Tapi aku telah menebus kesalahan itu dengan kesetiaan yang tulus untuk mencintai tanpa henti. Aku mencinta lebih dari yang kau tahu," katanya. Namun, ada setitik keraguan dalam kata-kata itu.

"Cintamu sudah tak utuh, Puteri. Cinta yang hanya menjadi pelampiasan atas wujud yang tak pernah kesampaian. Sebab, kesetiaan yang kautawarkan itu didasari oleh kekecewaan atas roman yang tak pernah maujud. Maka, jangan kausertakan hatimu yang kasar itu menjadi dalih bagi kesetiaanmu. Sebab, kesetiaanmu tidaklah sia-sia. Buktinya, kesetiaan itu telah menjadi kesaktian yang bisa menggosongkan seluruh benda-benda yang kautatap ketika penutup matamu terbuka."

"Apakah aku salah?"

"Tidak ada yang salah, Dewi."

"Apakah waktu yang salah?"

"Bukan salah, tapi kurang tepat."

"Apakah Tuhan yang salah?"

"Tuhan tidak pernah salah, tapi hambanyalah yang alpa."

Lalu, setelah puas menangisi kekalahannya, untuk kali kedua pula, ditutupnya mata dan penglihatanya untuk selama-lamanya. Lalu, ia pun merebahkan diri di antara puing-puing taman itu.

Dan, seperti yang kusaksikan, ia benar-benar menidurkan mata dan hatinya. Merebahkan tubuhnya di atas hamparan dedaunan. Beralaskan rambutnya yang tipis dan mulai memutih, ia menyembunyikan kecantikannya yang penuh dengan duka.

Sejenak ia meratapi kedukaannya. Luka-luka hati yang tak pernah tersembuhkan, saat satu demi satu yang dicintainya secara perlahan meninggalkannya.

Kali ini, ia merasa tak kesepian lagi.***



Bumi Manusia, 2007

Friday, June 08, 2007

Sold Out


Aku bisa melihatnya di mana-mana. Dia bisa diam seperti daun dalam genangan air, sesekali bergoyang tenang dan perlahan. Dia bisa resah seperti kutu mabuk, hilir-mudik menyeruduki kepalamu, menggayutgatali rambut. Dia bisa meletus seperti Tahun Baru namun juga bisa semenakutkan kuburan yang menganga, sesabar batu dan segalak halilintar. Dia menjamur dalam kelopak mataku. Jangan tertawa. Mungkin bagimu aku tolol karena kau tentu pernah jatuh cinta pula. Dan cintamu tak sesederhana ini. Untuk apa mencintai perempuan yang bukan lagi rahasia? Perempuan seharusnya seperti jigsaw puzzle, katamu. Kita lelaki butuh gambar utuh. Namun, yang paling penting adalah menemukannya sebelum utuh. Lalu menyusunnya sambil secara pelan-pelan mencintainya. Jadilah kamu puzzle, Puteri. Dan biarkan aku menemukan secara utuh dari bagian-bagian dirimu sebelum utuh.

Tuesday, March 06, 2007

Lelaki yang Dikalahkan Takdir


1

sungguh aku hanya ingin mengambil hakku, Dalem

ketika panen tiba dan kekasihku meninggalkan janjinya


ah, Apun, nama yang kukenali seperti keintiman

liku tubuhmu, barisan gigimu, serta setiap

helai rambut dan helaan nafasmu. Seperti lekuk

jalan setapak antara sawah dan hutan

yang menghubungkan kampungku dengan kampungmu

aku menemukan bau tubuhmu pada setiap helai daun padi

pohon-pohon karet, aliran sungai, dan setiap pasang mata


namun, kali ini, dari balik rerimbun pohon aku mencium

aroma tak wangi lagi. Daun-daun yang masih basah oleh emosi, tegak

dengan angkuh. Dan, kenyataan itu terasa sangat pahit

ketika harus kutelan sendiri takdirku. Benarkah aku harus

menelannya begitu saja? “Apun sudah berangkat

subuh tadi menuju ke dayeuh,” kata angin lirih


o, betapa pahit. Seorang laki-laki kehilangan

perempuannya yang dilarikan Sang Takdir. Betapa pahit

nasib yang harus kutelan sendiri ini. Dan, betapa sia-sia

menganyam mimpi tentang panen kita. Tentang

janji menjadi pengantin. Begitu janjiku. Juga janjimu,


tapi sekarang tidak ada panen itu. Orang-orang yang

kehilangan mimpi. Seorang laki-laki yang kehilangan perempuannya

seperti duka kanak-kanak yang kehilangan mainannya.


dan, aku berangkat untuk mengambil janjiku

merayapi jalan setapak dalam bisu sambil mengendapkan

rindu. Tanpa obor penerang jalan, sebab obor amarah di dadaku

lebih benderang menerangi jalan. Hanya sebilah condre yang kuselipkan

di balik punggung. Sebuah benda mati yang tidak melebihi

kekuatan cinta menuju perempuanku


2

ah, Apun, betapa cinta mampu membuat seorang laki-laki menempuh

jalan amarah ini. Melangkah tanpa keriangan saat ini. Yang ada hanya kabut

dan rasa nyeri. Dan, kesunyianlah yang menyergap ketika kakiku melangkah

melewati gerbang Kadaleman. Menyaksikan bunga-bunga dan sepasang

kekasih sedang saling rungrum. Dan, perempuan itu adalah kekasihku

namun, benarkah ia masih milikku kini?


kupandangi wajah laki-laki yang bercahaya itu. “Siapakah yang telah

mengusik pagiku?” suara agung itu tiba-tiba sudah berada di hadapanku.

aku menunggu suara lain yang ingin kudengar. Namun, suara yang

kunantikan itu tidak kunjung datang. Sementara tanganku kian erat

menggenggam condre di belakang punggungku. Ah, aku seperti seorang

pesakitan yang tepergok hendak meloloskan diri. Atau seorang anak

kecil yang hendak berbuat nakal, tapi ketahuan


Dari jauh kau datang, katakan sekarang atau tidak sama sekali,” suara

agung itu menggema kembali. Kali ini seperti sebuah sabda


Bunuhlah aku, Dalem,” suaraku tercekat di tenggorokan


sayup-sayup aku mendengar suara petikan kecapi diiringi gelik

suara suling. Aku juga mendengar suara tembang. Ah, suara kaukah itu?


3

duh, Apun, senjata di tanganku terasa bergetar dan begitu berat

seakan-akan ada ribuan kati beban yang menggayuti tanganku. Sementara

mata yang bercahaya itu masih menancap pada tubuhku. Ahhh. Kian

mengental kurindukan suara lain itu mengeluarkan kata-kata


barangkali satu kata pun cukup. Barangkali satu tusukan senjata ini

pada tubuh Dalem akan sanggup memancing suara yang kurindukan itu

barangkali satu jeritan. Sementara yang kudengar saat ini tetap alunan

denting kecapi ditingkahi jeritan suling. Sesekali suara

tembang Asmarandana yang sayup.


lalu, aku bangkit, berdiri. Berhadap-hadapan laki-laki dengan laki-laki

Aku harus mengambilnya, Dalem,” ucapku lirih

Kau berani melawanku? Melawan Dalem sebagai takdirmu?”

Tapi aku bukan hendak melawan Junjunganku, melainkan hanya

mengambil hakku.”

Seberapa berani kau menghadapinya?”

Sampai mati. Dalem. Sampai mati”

Sampai mati? Alangkah sia-sia hidupmu jika hanya bisa mati

sebab dirimu hanyalah seorang anak muda yang sedang dendam

oleh kasmaran. Sementara hanya takdir yang bisa

mengelakkanku terhadap kehidupan!”


pulanglah untuk menjemput takdirmu, ucapnya lirih

lalu semua terasa hening. Suara kecapi suling itu telah lama

lenyap. Hanya ada suara desiran angin dan helaan nafas

atas nama takdir pula, pergilah. Suatu saat kelak, jika ini memang

hakmu, ia tak akan ke mana-mana, gumam kemenangannya


o, betapa pahit takdir itu, ketika senjata condre di tanganku

bergetar. Ahhh. Senjata ini pun adalah takdir juga


1999-2004

Monday, December 04, 2006

Menemukan dan Kehilangan

mencintaimu
seperti menyiramkan cuka
di atas borok lama yang
terus bernanah
pedih sekaligus lepuh tak terkira

menjadi kekasihmu
seperti menaburkan garam
pada mesin tua penuh karat
rapuh dan begitu sia-sia

mencintaimu
sekaligus menjadi kekasihmu
seperti menjalani hidup
tanpa pilihan


Menemukan dan Kehilangan. Seorang laki-laki membungkuk terus-menerus. Seakan-akan tak berhenti mencari. Tubuhnya tertekuk, dengan kepala setengah menengadah.

Itulah lukisan karya Heru Hikayat, perupa asal Seni Rupa ITB. Lukisan tersebut sempat dipamerkan tahun 1995 lalu di IAIN (sekarang UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Lukisan itu juga sempat digunakan sebagai cover buku kumpulan puisi dengan judul sama oleh kelompok penyair asal Serang, Banten, 1996 silam.

Menemukan dan kehilangan, saat ini menjadi judul utama drama yang sedang diputar dalam jantungku. Menemukan sekaligus kehilangan dalam waktu yang hampir berbarengan. Setelah 33 tahun lebih, aku menemukan sesosok lelaki ringkih dengan penyakit tua dan sesak nafas, mengaku seorang ayah. Pertemuan pertama (dan terakhir), sebab setelah itu, 2 minggu kemudian, beliau meninggal dengan tenang.

Aneh dan tak terduga, drama menemukan dan kehilangan itu meluncur ibarat tragik komik. Menimbulkan rasa tawar dan ngilu. Sedih dan senang sekaligus.

Perasaan tawar itu menjalar ketika sebuah pesan pendek (SMS) masuk. Pengirimnya istriku. Bunyinya, "Ken, babe lu meninggal jam 1 tadi. Tudut berduka cita ya!" Aku tak bergeming, dan SMS tersebut kuabaikan. Namun, kata-kata dalam SMS tersebut terus mematri dalam benak.
Lalu, pesan itu menjadi rasa ngilu yang menusuk-nusuk sehingga aku memutuskan untuk berangkat ke rumah duka.

Sedih? Tentu saja, seakan-akan direnggut oleh kehilangan dari sesuatu yang baru ditemukan. Namun, aku senang sebab sebelumnya sempat bertemu dan berbincang sebagai seorang anak dengan ayahnya. Manis dan melankolis, bukan?

Namun, semuanya tlah usai dan sirna. Dan, hidup harus terus berlanjut.

Viva Liverpool!


 

Tuesday, November 14, 2006

Tiba-tiba Istriku Ingin Menjadi Pohon

tiba-tiba angin mengajak berjongkok di samping kebun. tatap, katanya
tunas yang ditanam dengan tangan kasarmu itu sudah belajar menjadi pohon
menancapkan akar. menumbuhkan batang untuk tempat tumbuhnya ranting
tapi, kapan kelopak bunga mekar? tanya istriku. dengan sabar angin
menunjukkan riwayat sang hidup yang menjalani babak demi babak. kapan
waktunya menguatkan akar, kapan saatnya menumbuhkan batang, dan kapan
membuat ranting menjadi penuh daun tempat menyembulnya bakal bunga

angin membelai tangan kasarku yang sedang menyiramkan air pada pohon
yang sedang belajar tumbuh. lihat, jeritnya, tanpa tangan kasarmu yang
memberikan kehidupan, pohon itu tak akan pernah bisa menyerupai pohon
lalu, kapan buah menjadi ranum? rengek istriku. dengan telaten angin
meminta lebah berzinah dengan putik, tanpa melamar dan menyerahkan
mahar, dikawininya bunga hingga hamil. bunga yang kelak hamil tua pada
akhirnya akan menghasilkan buah yang kecil dan lucu-lucu sebagai kado

mungkinkah angin mengajarkan sesuatu untuk pohon itu? setidaknya, gumamnya
pohon pun belajar untuk melakukan kesabaran. Melalui babak demi
babak tanpa tergesa. Dan, lihat, tunas kecil itu tumbuh menjadi pohon dengan
akar yang kuat dan batang yang elok, berdaun rimbun dan berbunga kemilaudan buah? wahai, tiba-tiba istriku ingin menjadi pohon!

Wednesday, November 08, 2006

Cameo


Maria Renata tampil sebagai Maria Renata dalam sinetron Dunia Tanpa Kata (DTK). Emang siapa cameo itu? Kalau Bruce Willis tampil sebagai Bruce Willis tentu saja sangat tahu.

Aha, baru tahu siapa Maria Renata setelah membaca hasil wawancara Akmal Naseer (Koran Tempo), bahwa dia adalah selebritas Indonesia yang tak bisa membedakan Jakarta International Film Festival (JiFFest) dengan Jakarta Jazz (JakJazz). Wow, selebritas yang sudah bisa tampil sebagai diri sendiri (cameo) itu tak tahu event yang seharusnya dekat dengan dunia dia? Betapa indahnya....

Ah, Akmal, teganya wawancara segitu detilnya. Hehe!

Deal

Hi, seharusnya tempat ini telah penuh terisi dengan berbagai rujukan atau runtukan. Tapi, tak pernah ada waktu yang cukup hanya untuk sekedar meruntuk-runtuk. Sebab, ternyata, menulis itu tak segampang yang dikatakan Wendo (Arswendo Atmowiloto). Yang gampang itu bukan menulisnya, tapi niat menulis.

Entah apalah. Ya, inilah buah dari niat menulis itu. Hanya sekedar mengisi blog, biar gak di-erase? Haha..

Thursday, July 20, 2006

Maut Berkasta


gempa tlah tiba
gempa tlah tiba
hore, horee, horeee!

Andai saja syair lagu yang dinyanyikan si imut cilik Tasya seperti itu...

Jasad seorang wartawan Sinar Pagi yang terseret tsunami telah ditemukan. Berita itu menjadi satu angle yang ditayangkan sebuah stasiun tv swasta. Ah, ternyata bencana itu telah menyeret korban dari kalangan profesi yang menginformasikan bencana itu sendiri. Namun, pada ujung berita tersebut diceritakan musabab "sang wartawan" itu hingga direnggut maut. Beliau, bersama tiga temannya, sedang bermain di pantai saat tsunami menerjang.

Alamaaaaakk... kalau sedang bermain mah apa bedanya dengan ratusan korban lainnya. Kok, harus dibedakan antara warga biasa dengan wartawan? Kirain sedang melakukan tugas jurnalistik sehingga disematkan predikat lain: meninggal karena tsunami sebagai wartawan!
Kok, korban yang lain tidak ada yang disebutkan secara detail sesuai profesinya, bahwa yang meninggal itu Nelayan yang sedang bermain, Dokter yang sedang bermain, Tukang kayu yang sedang bermain, Sopir yang sedang bermain, dan lain-lain.

Betapa maut pun sudah mulai mengenal kasta yang harus dibedakan!

Thursday, July 13, 2006

Lagu Orang Rumah

seribu tahun buatmu, adik, yang masih bermimpi
bertemu kekasih. Sesuatu yang disebut memori itu
ada atau tak ada. Tapi rasa romantis telah lebur
menjadi puisi dan lagu-lagu sederhana. Mengambang

seribu tahun lagi, adik, aku punya mimpi. Dan
tawaran yang terus mengalir buat jadi pengelana
atau pembawa acara. Salah siapa jika yang terukur
hanya kedalaman rasa dengan saling setia saja setiap
ada di rumah. Sebab sejengkal dari sana kau dan
aku kembali menjadi kanak-kanak. Abadi

padahal keabadian itu hanya menunggu, meringkuk di sudut
kamar, minta dielus dan dicumbu, disayang-sayang. Jadi
tak perlu ada lagu baru atau pembawa acara, memori
apalagi kelana kesiangan. Sesuatu itu
nisbi dan tak eksis

seribu tahun lagi, adik, jika beruntung. Kau dan aku masih
bisa bersama-sama


Sunday, July 09, 2006

Lost Mind



Ingin kuterjemahkan matamu,
tapi tidak hatimu ... !

Friday, July 07, 2006

Ilalang



pintu itu masih tertutup, di balik jendela
tiba-tiba udara mulai mengambang. Mata
siapa yang memandang berkaca-kaca?

tiba-tiba saja rambut kita menjadi
putih semua, dan orang-orang menidurkan
hatinya di atas tanah

Saturday, July 01, 2006

Wanci Ratri



Adalah malam yang wingit dan sakral. Adalah malam ketika Begawan Wisrawa memaparkan Sastra Jendra Hayuningrat kepada Dewi Sukesi. Adalah malam ketika diri berhadapan dengan jatining diri. Adalah malam ketika jiwa dan raga terbuka untuk melihat dan mendengar rahasia semesta yang paling dalam.

Dan, kau bukan rahasia lagi ...

Wednesday, June 28, 2006

Terima Kasih, Rimet!


 FIFA World Cup sudah memasuki episode ke-18, sejak pertama kali digelar tahun 1930 silam. Maka, berterima kasihlah kepada Jules Rimet, entah bagaimana caranya. Berkat ide pria Prancis itulah ajang olahraga terbesar di dunia ini lahir.

Tanpa ide cemerlang pria kelahiran Theuley-les-Lavoncourt (24 Oktober 1873) itu, kita tak akan pernah menikmati Piala Dunia ke-18 kalinya di Jerman ini. Rimet adalah orang yang pertama kali mencetuskan dilangsungkannya turnamen sepak bola antarnegara di seluruh dunia.


Selepas sekolah menengah, Rimet memutuskan memilih Paris untuk melanjutkan studinya di ilmu hukum. Namun, di ibu kota Prancis itu pulalah kecintaan Rimet pada sepak bola berkembang. Pada Maret 1897, ia dan beberapa rekannya mendirikan klub sepak bola Red Star, yang masih eksis hingga saat ini.

Dedikasi dan pengaruh Rimet pada sepak bola Prancis semakin kuat saat ia berhasil mempersatukan federasi-federasi sepak bola Prancis ke dalam satu wadah: Federation Francaise de Football (FFF) atau Federasi Sepak Bola Prancis pada 1910.

Pada awalnya tak ada yang kenal siapa Rimet hingga kongres FIFA --Badan Sepak Bola Dunia yang berdiri pada 1904-- di Christiania pada 1914 ia mewakili FFF. Di sinilah Rimet melontarkan ide. "Melihat pelaksanaan (sepak bola) di olimpiade yang sesuai dengan peraturan FIFA, sebaiknya FIFA melaksanakan turnamen sendiri. Jika sepak bola terikat dengan olimpiade, itu hanya akan seperti turnamen dunia amatir," kata Rimet.

Langkah Rimet semakin terbuka saat ia ditunjuk menjadi presiden FIFA ketiga pada 1 Maret 1921. Pada kongres FIFA di Amsterdam, 28 Mei 1928, Rimet bersama rekan senegaranya yang juga Sekretaris Jenderal FFF, Henry Delauney, mulai melaksanakan kampanye untuk melaksanakan turnamen yang mempertemukan negara-negara sepak bola seluruh dunia.

Ide yang mendapat sambutan luar biasa dari anggota FIFA dan memutuskan penyelenggaraan pertama dilangsungkan pada 1930. Hungaria, Italia, Belanda, Spanyol, dan Swedia mengajukan diri sebagai tuan rumah.

Namun, Uruguay lebih difavoritkan sebagai tuan rumah pertama karena beberapa alasan. Uruguay merupakan peraih dua medali emas olimpiade (1924 dan 1928) serta akan merayakan 100 tahun kemerdekaannya.

Pada kongres FIFA di Luksemburg 1946, sebagai bentuk penghargaan, nama Rimet diabadikan menjadi trofi Piala Dunia pertama yang diciptakan Abel Lefluer.

Selama 33 tahun di bawah kepemimpinan Rimet, FIFA tumbuh menjadi organisasi besar. Saat Piala Dunia 1954 di Lausanne Swiss --Piala Dunia terakhir yang dibuka Rimet-- FIFA telah beranggotakan 85 negara.

Tanggal 21 Juni pada tahun yang sama, dalam kongres di Bern, Rimet mengundurkan diri dan menjadi Presiden Kehormatan FIFA yang pertama. Setahun kemudian ia menerima penghargaan Nobel La Paz atas jasa-jasanya mengembangkan sepak bola dan perdamaian. Rimet meninggal dunia pada 16 Oktober 1956 di Paris.

Kini, 76 tahun setelah Piala Dunia pertama di Uruguay, 70 negara sudah ikut serta. Beberapa sudah berganti nama, beberapa bahkan sudah tidak ada. FIFA kini beranggotakan 205 negara, lebih banyak dibanding anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa!

Rimet memang sudah tiada. Namun, berkat jasanya, Piala Dunia --yang tahun ini diselenggarakan di Jerman untuk yang ke-18 kalinya-- menjadi bagian dari kehidupan sepak bola, juga dunia.

(sumber: Tempo Interaktif, Senin, 15 Mei 2006)

Portiere



Suatu ketika komunitas kami harus berangkat ke luar daerah untuk melakukan investigasi. Kami berjumlah 7 orang: Kayak The Seven Magnificient, deh! Tiba-tiba seorang urung ikut: "Aku jaga gawang aja!"

Tentu saja secara harafiah jaga gawang di sini tugasnya tidak seperti Buffon atau Dida, meskipun tugasnya sama-sama agar tidak kebobolan.

Namun, jaga gawang di komunitas kami akhirnya menjadi bermakna negatif. Setiap ada kegiatan ke luar daerah, alih-alih kompakan, selalu saja orang yang itu-itu juga selalu bilang, "Aku jaga gawang aja," katanya. Alhasil, jadilah dia bernama Ari Lasso alias Si Penjaga Gawang! (salah satu lagu Ari Lasso berjudul: Penjaga Hati).

Menjadi penjaga gawang tidak selalu berarti masif. Sebab, dialah satu-satunya yang memiliki otorisasi lebih dalam sebuah permainan sepakbola. Ada ruang seluas 16 meter yang menjadi wilayah teritorialnya sebagai penguasa.


Monday, June 26, 2006

Hijrah


Benarkah ada kampung besar bernama Jakarta?

Tiba-tiba yang membentang dalam khayal adalah belantara lebat dimana langit tak pernah ada. Dasar orang udik, katamu, Princess. Ya, aku masih tetap laki-laki 'dusun' yang gagap dengan gerak bersicepat itu. Bukankah, ketika pertama harus menikmati MTV pun, kepala ini masih terbata-bata untuk mencecapnya?

Dan, mulai hitungan hari ke depan, aku harus masuk ke belantara itu. Tenang aja, Jek, semua juga manusia. Hah, memang manusia! Tapi, bukankah manusia juga yang telah menciptakan keseraman sekaligus kemuraman di mana-mana? Aku harus ke Jakarta, euy!

Meskipun sering menginjakkan kaki ke Jakarta, tak lebih sekedar numpang lewat. Jika harus lama, daya tahanku hanya sampai 2x24 jam. Lebih dari itu, kepala yang terus berdentam-dentam ini memaksaku untuk melarikan diri.

Lalu, titah itu akhirnya datang juga: Mulai 1 Juli, kau harus ke Jakarta! Alamaaaakk, kenapa tidak sekalian aja ke Baghdad? Biar pulang kelak, aku bisa berbangga dengan julukan Si Raja Baghdad.

Status Quo


Berpihaklah kepada yang mapan, maka Anda layak menunggang angin.

Ini masih tentang perhelatan FIFA World Cup 2006 di Jerman. Suatu ketika, tiba-tiba berharap di final bertemu Iran versus Angola, atau Trininad & Tobago bertemu Togo. Namun, apa lacur, sepakbola dunia memang status quo. Tak ada kejutan berlebihan. Jika Jerman, Inggris, Argentina, dan Potugal melenggang ke babak berikutnya, maka berkibarlah status kemapanan itu.

Memang ada mutiara bersinar dari benua hitam seperti Ghana. Taji Michael Essien, Steppen Appiah, Asamoah Gyan, setajam kuku singa. Atau Swiss yang mampu mencakar Menara Eiffel dan Ukraina, negara Eropa Timur yang mengandalkan legenda tunggal Ashevchencko. (Ah, ingat pelajaran sejarah yang menyebutkan negara inilah yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia, wuiiiihh!). Sayangnya, sejarah pun seakan-akan tak menghendaki adanya kejutan. Malah, sejak tahun 1994, finalis World Cup hanya ada Brasil dengan 3 lawannya: Italy, Francis, dan Jerman.

Jadi ingat pertengahan tahun 80-an saat di tanah air tercinta heboh kejuaraan sepakbola yang bernama Kompetisi Perserikatan. Saat itu, Persib Bandung dan PSMS Medan adalah ikon dari kemapanan alias status quo. Belakangan, muncul Persebaya Surabaya, PSM Makassar, Persija Jakarta (Pusat), dan PSIS Semarang. Bahkan, jika Persib melangkah ke Senayan (tempat final diselenggarakan), dijamin seluruh stadion disulap menjadi warna biru, warna kesayangan tim asal Bandung ini. Hingga tahun 1989, Perseman Manokwari yang melenggang ke final, seakan-akan dipaksa memilih lawan Persib. Kenapa? Sebab, jika tidak, aroma kemapanan itu akan sirna.

Sekarang, akankah kita berharap final World Cup akan terjadi antara Ghana vs Swiss? Sejarah pasti tak akan merelakannya! Atau, sejarah belum siap dengan perubahan yang akan merusak status quo.

Sunday, June 25, 2006

Winning


Begitulah. Panggung itu telah ditentukan oleh Sang Waktu. Deutchland, Deutchland, airmata siapa yang lebih dulu mengalir?

Begitulah, Sang Pemenang yang akhirnya akan melenggang. Di antara 17 kali perhelatan, Sang Waktu hanya membilang 7 jawara dari seluruh benua. Adilkah? Sang Waktu tak pernah memahkotai dengan keadilan, tetapi dengan Takdir. Destiny. Maka, takdir pula yang telah merujuk 3 nama dari benua latin serta 4 nama dari benua putih yang mewakilinya. Sejak tahun 1930-2002 (minus 1942 dan 1946 karena ada kejuaraan lebih akbar, yakni: Perang Dunia, Man!) hanya ada
Brazil (juara 5 kali tahun 1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002), Jerman (Barat) (3 kali tahun 1954, 1974, dan 1990), Italy (3 kali tahun 1934, 1950, dan 1982), Uruguay (2 kali tahun 1930 dan 1938), Argentina (2 kali tahun 1978 dan 1986), Inggris (1 kali tahun 1966), dan Francis (1 kali tahun 1998).

Begitulah. Lalu, kemanakah Sang Waktu menjatuhkan Takdir-nya tahun 2006 ini? Semoga yang terbaik dimahkotai sebagai Putera Sang Waktu.

Hail Enggris!!!!